Jangan Pernah menolak Minum Kopi Buatan Suku Bugis di Makassar
idbreakingnews- Cerita mitos tersebut melekat pada suku Bugis Makassar. Salah satu yang
dianggap keramat adalah mitos menolak minum kopi buatan tuan rumah bersuku
Bugis Makassar.
![]() |
| Kopi Makassar |
Mitos itu menyebutkan, ketika tuan rumah menawarkan kopi
buatannya kepada tamu yang bertamu, orang yang ditawari wajib mencobanya. Jika
tak disentuh sedikitpun, tamu tersebut diyakini bisa dapat celaka.
Mitos warisan nenek moyang suku Bugis-Makassar tersebut tak
hanya terjaga oleh kalangan orangtua saja, tetapi juga oleh para pemuda
setempat.
"Percaya atau enggak, itu sudah banyak kejadian. Pernah
saya sendiri mengalaminya," kata Bibi Sane (43), warga Suku Bugis yang
berdomisili Desa Makkaraeng, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros, Sulawesi
Selatan, Sabtu, 9 September 2017.
Ia menuturkan, saat itu ia akan pergi berlibur ke luar
daerah, padahal ibunya telanjur membuatkan secangkir kopi. Karena buru-buru,
Sane tak mencicipinya sedikitpun. Ia sempat ditegur oleh sang ibu, tapi ia
segera pergi.
"Ibu bilang hati-hati saja. Eh, di jalan, saya alami
tabrakan dan ini buktinya di tangan ada jahitan," ujarnya.
Akibat kejadian itu, Sane yang telah memiliki cucu dua orang
selalu mengingatkan anak cucunya agar jangan pernah sesekali menolak tawaran
tuan rumah atau teman untuk mencicipi secangkir kopi panas yang terhidang,
meski sedikit.
"Jika ada demikian, cicipi aja biar hanya sedikit.
Jangan pernah menolak, apalagi hendak perjalanan jauh misalnya. Pamali bagi
kita Bugis-Makassar," kata Sane.
Mitos nenek moyang itu, diakui Sane, mempunyai makna
filosopi. Artinya, kita diingatkan untuk selalu menghargai dan tak menolak
rezeki yang diberikan oleh tuan rumah yang dikunjungi.
"Nenek moyang mungkin ingin mengajarkan kita demikian.
Untuk menghargai dan tidak menolak rejeki yang diberikan oleh orang yang
betul-betul ikhlas memberikan," ucap Sane.
Tak hanya tentang secangkir kopi, Sane mengatakan aturan
tersebut juga berlaku bagi hidangan makanan nasi. "Itu juga pamali berat.
Hampir semua masyarakat Sulsel masih melestarikannya. Jika dilanggar, dipercaya
bisa celaka berat," kata Sane.






