Trotoar Salah satu pedagang minuman yang berjual beli di sekitar trotoar Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat, mengaku beruntung karena Jakarta dipimpin oleh Anies Baswedan selaku Gubernur DKI Jakarta dan Sandiaga Uno selaku Wakil Gubernur DKI Jakarta.
Ungkapan itu dikatakan Asih (bukan nama sebenarnya) saat ditemuiKompas.com di trotoar Stasiun Tanah Abang yang mengarah ke Pasar Blok G Tanah Abang.
Asih mengaku, karena Anies-Sandi memimpin Jakarta, dia dan beberapa rekan pedagang lainnya bisa kembali menjual di trotoar.
"Top deh pedagang kaki lima hanya bisa berjual beli di trotoar, yang penting tidak melalui jalur kuning," kata Asih saat melayani pembeli, Rabu (13/12/2017).
Pemerintahan Anies Sandi sangat longgar di Jakarta yang dipimpin oleh Ahok-Djarot.
"ahok langsung diangkut - angkutin," kata Asih.
Asih meminta Anies-Sandi untuk mempertahankan persetujuan pengaturan.
Dengan kelonggaran yang diberikan, dia yang merupakan warga Palmerah, Jakarta Barat, bisa menunjang keenam anaknya tersebut.
Padahal, Asih meminta, jika tidak diperbolehkan menjual di trotoar, terlebih dahulu disiapkan pekerjaan pengganti sehingga dia tetap bisa menunjang anak-anaknya.
"Saya juga enggak pengen kaya gini, panas panas, kalau ada pekerjaan lain yang gaji saya tenang," kata Asih.
Sejalan dengan Asih, salah satu pedagang somay bernama Sugeng mengaku tidak perlu khawatir lagi dengan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang biasa melakukan pengekangan.
"Tidak ada lagi kucing-kucingan, kalau sekarang Satpol PP melalui mesin yang dipesan kita direkayasa, kalau dulunya diangkut langsung ke kucing-kucingan," kata Sugeng.
Selain itu, berjual beli di trotoar juga membuat tidak repot membayar sewa tanah. Sebab, saat berjual beli di trotoar di Tanah Abang, dia belum pernah menulis sepeser pun.
"Tidak ada iuran, ya kebanyakan kalau ada yang meminta kita untuk mencintai seikhlasnya, tapi bukan sewa tanahnya," kata Sugeng.
Lain halnya dengan Najamudin, salah satu pedagang pakaian yang berjual beli di trotoar tepat di seberang stasiun. Ia harus membayar uang sewa setiap bulannya Rp 1 juta.
"Bayar setiap bulan, ada juga yang harian. Meski bayar tapi kita bisa berjualan di sini, orang yang beli terlalu banyak," kata Najamudin.
Menurut Najamudin, iuran iurannya tidak resmi. Jadi, jika sewaktu-waktu ada pengertiban, dia hanya bisa pasrah menyesali barang dagangan.
"Ya kalau kita diajak insinyur, tapi kalau kita punya Satpol PP, kita akan menginstalnya lagi," katanya.
Google Translate for Business:Translator ToolkitWebsite Translator




























